Jalan Baru Menuju Sendu


Tasyukuran hasil bumi atau yang disebut “sedekah bumi” di desa masih dipertahankan sampai saat ini. Makna dari kegiatan tersebut adalah bentuk dari rasa syukur pada alam yang telah mengasihi dan menghidupi. Sedekah bumi ditahun2019 ini nampaknya hanya menjadi simbolik tahunan. Rasa syukur yang terlahir dalam acara tersebut tak berasal dari batin yang sejuk mengingat kekeringan yang terjadi. Tak dapat dipungkiri bahwa kemerosotan alam makin tahun kian buruk saja, perubahan ditahun 2019 dapat dikatakan perubahan yang paling signifikan. Ditahun ini sungai mengering bagai kantong anak kost akhir bulan, bahkan tanah yang biasa dialiri air merekah bagai mulut-mulut menganga yang menantikan tetesan air memasukinya.

Banyak warga berpendapat kekeringan sungai di wilayahnya diakibatkan karena aliran sungai yang berada di dekat sumber mata air dibendung guna mencukupi kebutuhan warga sekitarnya, sehingga warga yang berada dijauh dari sumber air, tidak dapat merasakan manfaatnya. Kekeringan tahun ini juga berdampak pada vakumnya aktivitas petani. Mungkin ini menjadi masalah yang tampak di awal-awal pemerintahan jokowi periode ke- 2. Tentunya harapan mewujudkan kehidupan yang makmur terasa semakin jauh, rasanya seperti berlari mengejar kereta api. Saya menjadi teringat kampanye-kampanye jelang terpilihnya periode 1 dan realisasi yang dilakukan. Sejak periode 1 jokowi memang gencar melakukan pembangunan infrastruktur, perbaikan jalan dilakukan secara menyeluruh sampai ke pelosok. Dalam pidatonya langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama yang ada di desa, karena dengan begitu hasil bumi dapat didistribusikan dengan mudah. Setelah pembangunan infrastruktur pemerintah berencana akan membangun SDM, peningkatan mutu pendidikan,serta pelatihan-pelatihan UKM, sehingga diharapkan masyarakat menjadi lebih produktif, dan kesejahteraan diharapkan meningkat.

Benar saja, dalam periode 1, pembangunan infrastruktur digenjot secara masif. Walaupun kabarnya sebagian besar dananya berasal dari luar negeri, disamping itu dana dari investor juga terus mengalir. Tentu dalam prosesnya menemui masalah-masalah, salah satu yang paling sering dijumpai adalah pembebeasan lahan. Selain itu sempat ada berita konflik saat pengerukan tanah disalah satu perbukitan sragen yang hendak digunakan sebagai pengurukan bakal jalan tol. Mengingat pembangunan dilakukan secara besar-besaran tentu material yang dibutuhkan juga sangat banyak, termasuk tanah. Namun mungkin masalah yang terjadi seperti di Sragen mungkin dapat dihitung dengan jari jumlahnya, sangat sedikit. Sedikit-demi sedikit kota ke kota mulai terhubung dengan jalan tol, hingga pada akhirnya kini Jakarta-Surabaya terhubung. Transportasi kereta api juga tak luput menjadi perhatian, telah dibangun relganda sepanjang pulau jawa. Pembangunan infrastruktur yang dilakukan diperiode 1 sudah dapat dinikmati sekarang, tahun 2019, tahun pertama periode ke 2 Jokowi.

Pasar online juga tumbuh menjamur, karena kemudahannya konsumen dalam mengakses internet serta kemudahan ekspedisi dalam mengantar barang belanjaan ke pelosok desa mengingat pembangunan jalan sampi ke tempat-tempat terpencil. Konsumen dimanjakan benar akan hal ini, terlebih harga juga kompetitif sehingga bias mendapatkan harga yang terendah. Mungkin ini salah satu capaian Jokowi dalam menyejahterakan masyarakat.

Namun disatu sisi saya teringat akan akan kekeringangan yang melanda, banyak sawah berubah menjadi tanah lapang sehinga banyak petani tak menikmati hasil bumi. Pembangunan jalalan dipelosok ternyata tidak begitu berarti pada musim kemarau, karena tidak ada hasil bumi yang dapat didistribusikan di luar daerah. Seperti sia-sia saja pembangunan jalan ini bagi para petani di musim kemarau, bahkan untuk mencukupi air untuk kebutuhan sehari-hari mereka mesti menukar uangnya dangan air. Dari manakah mereka harus mendapatkan air jika tak ada uang, bagaimana ada uang jika tak ada panen?

Dampak yang sangat terasa didesa dalam pembangunan infrastruktur adalah kemudahan masyarakat desa dalam berbelanja. Mudahnya akses kepelosok-pelosok desa membuat perusahaan-perusahaan ekspedisi menjamur dan ongkos kirim lebih terjangkau, ditambah lagi persaingan pelapak online yang ketat membuat harga menjadi murah. Masyarakat desa sangat dimanjakan akan hal ini.

Apakah ini yang dimaksud kemajuan yang sebenarnya, kualitas hidup yang menjadi lebih baik? Kemudahan dalam mendapatkan segala sesuatu mudah dilakukan. Namun kemudahan itu berlaku bagi orang-orang berada, dengan uang lebih yang ada disakunya mereka mampu membeli keinginan-keinginan yang mereka kehendaki. Namun bagi miskin, mana bisa memenuhi keinginannya sedang kebutuhan mereka tak terpenuhi. Tak jadi hal serius yang mengganggu dibenak jika si miskin tak bisa memenuhi keinginan, tapi bagaimana jika masalah itu menyangkut hal dasar kehidupan yaitu air? bukankah itu adalah hal yang sangat aneh? Sebuah keadaan dimana ada yang dipersulit untuk mendapatkan kebutuhan dasar kehidupan (air), namun, ada yang dimudahkan dalam memperoleh keinginan. Tak bisa dipungkiri sebagia besar konsumen yang berbelanja online hanya untuk memenuhi keinginan-keinginan saja, bukan sebagai kebutuhan yang mendasar.

.Cita-cita yang pernah dilontarkan oleh pemerintah untuk mewujudkan masyarakat yang produktif cenderung bertolak belakan 180 derajat dengan apa yang terjadi. Mereka yang berada dipelosok desa menjadi kian konsumtif karena adanya kemudahan akses menuju desa, ditambah iklan-iklan berseliweran disetiap mata memandang, diHP, di TV, youtube. Ditambah lagi system ekonomi liberal (pasar bebas) yang terjadi saat ini, dimana setiap orang dapat mengimpor barang-barang jadi dari luar negeri. Sungguh ironi sekali, kita mengeruk bahan-bahan mentah (seperti tambang biji besi, alumunium, nikel) untuk diekspor, dan diimpor menjadi barang jadi. Bukankah tambang-tambang akan berdampak memburuknya lingkungan? Eksploitasi lingkungan semakin giat dilakukan karena mudahnya akses untuk membawa bahan mentah dibawa kenegara-negara pengimpor, lalu Negara pengimpor mengekspor kembali  ke Indonesia dengan wujud barang jadi, dengan gencarnya menginat ekonomi liberal, kemuadahan akses serta aturan regulasi yang memudahkan.

Seperti kita ketahui pada umumnya hampir tidak ada lahan tambang yang berlokasi dikota, ya eksploitasi alam hampir dilakukan di tempat-tempat terpencil, seperti tambang Freeport hutan papua, tumpang pitu banyuwangi, rembang dipegunungan kars. Jika kita mengatakan ini sebuah pembangunan ekonomi iya, karena pendapatan pajak bertambah karena aktivitas-aktivitas perusahaan terseebut. Tapi disisi lain petani yang menggantungkan hidupnya pada alam tak lagi dapat beraktivitas, yang bisa bergerak hanya mereka yang mempunyai modal, didukung dengan regulasi dari barang mentah menjadi bahan jadi, lalu bisa dinikmati. Banyak system-sistem yang mendukung lancarnya alur tersebut seperti sistem ekonomi liberal, proses hukum yang kurang tegas tentang perusakan lingkungan, akses jalan dan masih banyak lagi yang mendukung lancarnya eksploitasi alam yang berdapak krisis ekologi. Mau tidak mau, setuju atau tidak setuju tentang kebijakan yang berlaku harus merasakan sisi negatifnya juga, yakni sulitnya mendapatkan bahan pokok kebutuhan-kebutuhan yang sangat mendasar yaitu air.  Mungkinkah impian dalam meningkatkan kualitas SDM akan terwujud diperiode kedua pemerintahan jokowi? Apakah bisa SDM meningkat sedang kita kekurang kebutuhan dasar kehidupan (air)?

Comments

Popular posts from this blog

Tuhan, maha apakah Engkau?